Sabtu malam di tempat Arunika bernaung, tak ada bedanya dengan kota mu. Tetap sesak dipenuhi manusia yang menganggap malam itu adalah malam yang penting. Arunika bukan salah satunya, dibuktikan dengan ia yang duduk dan menatap layar laptop untuk menulis sebuah cerpen yang biasanya diupload seminggu sekali di website Komunitas Penggores Pena. Pikiran Arunika tengah buntu, entah karena kejadian hari rabu yang menyebabkan Budi di boyong ke sektor kota, lalu hati Arunika patah karena Budi lebih membimbangkan orang lain ketimbang dirinya sendiri atau karena teringat tugas-tugas kuliah yang mulai tak tersentuh. Arunika tengah bimbang, tak tau arah, kelam kabut. Dalam riuhnya bunyi knalpot motor yang sering lalu lalang, Jingga datang dengan membawa sekotak terang bulan rasa keju coklat, kesukaan Arunika. Sahabat Arunika sejak di bangku sekolah itu memang selalu paham keinginan...