Langsung ke konten utama

Postingan

Arunika : Gelap yang Menemukan Terang

“Bud, aku sedang tak baik-baik saja”, ujar Arunika pada Budi di suatu hari. Lalu hari tersebut Budi habiskan untuk menemani Arunika mengelilingi kota. Ya, kota ini tempat pertama kali Arunika mengenal Budi. Kota yang kelak akan menjadi saksi, sebuah perpisahan atau sebuah keselarasan. Sungai yang panjang itu mereka telusuri berdua, melewati sebuah water front dengan lukisan corak insang. Sungai yang mereka tahu bahwa Wiji Thukul pernah bersenda dengan temannya beberapa bulan sebelum dinyatakan hilang sampai saat ini, ah Kapuas, sungai yang tak kalah panjang dari perjalanan hidup mereka. Budi dan Arunika duduk di sebuah gazebo yang menghadap langsung pada Sungai Kapuas dan Masjid Jami’, “Kau tahu Bud, terakhir aku tak bisa beranjak dari kota ini adalah sebab seorang yang adzannya tak kalah merdu dibanding muadzin di masjid itu. Namanya tak jauh beda dengan namamu”. Mata Arunika berkaca-kaca, begitu mereka berdua bergantian membuat Arunika bahagia berturut-turut. “Tahu kah kau,...

Arunika : Samar

            Hujan bulan oktober, bukan sebuah keanehan. Rintik-rintiknya menjadi ujaran syukur banyak orang meskipun ada yang gusar sebab kota ini tak dirancang untuk menahan limpahan air yang berlebih. 2 – 3 mdpl, banjir dimana-mana tak terkecuali di hati Arunika. Budi melaju membawa motor kesayangannya untuk melihat sebuah pameran di tengah kota. Licinnya jalan raya setelah diguyur hujan, macet sebab banyak jalan yang digenangi air hingga 30 cm membuat Budi sejenak kehilangan konsentrasi dan tak melihat ada mobil yang kehilangan kendali. “Brakkkkkkk”, suara dentuman yang cukup membuat orang-orang yang berlalu lalang di trotoar bahkan semua pengendara terkejut. Budi, dengan motornya ditabrak oleh mobil yang melaju tanpa perhitungan. “Arunika? Kau dimana? Budi, sekarang di rumah sakit!”, ujar sepotong suara di line telepon. Saat itu juga, jantung Arunika berdegup sangat kencang, antara bimbang, takut dan pastinya sedih. Ia ...

Senja Berkabut

  Kau sedang sesak dalam peraduan Tak ada satupun yang mengenggam Mengenggam cahaya seperti dulu Semburat jingga yang kian redup Sore itu, senja berkabut Nikmat haru yang akhirnya ku lahap Bersama, ingin ku tepis ragu Lalu kedua satria saling menyatu Kau titik-titik tanpa akhir Pesona kian terhalang pekat Di suatu sore tanpa genggamanku Aku hidup, terasa mati, bila kau sesak Kita adalah yang tak terucap itu Di dalam sebuah buku yang kau karang Kita adalah yang tak bertepuk itu Di dalam angan dan kebisuanku Sedang kau adalah juara pertamaku

Arunika : Kala Termakan oleh Waktu

Enam tiga puluh, pagi itu Arunika sudah memasuki babak baru yang pastinya dalam jangka waktu yang cukup lama ia takkan menjumpai Budi yang selalu jadi pemeran utama dalam hidupnya. Akan ada pemeran utama baru yang menjumpai harinya sejak senin hingga bertemu senin lainnya. Tinggi badan 163 cm dengan postur tubuh yang berisi dan senyum yang membuat orang lain terpana, Kala. Begitulah Arunika memanggil namanya, seorang yang Arogan. Jarang tersenyum apalagi menyapa, namun jika tersenyum akan membuat orang-orang sekitarnya terkagum. Waktu pun dapat terhenti karenanya, mungkin itu juga sebab Arunika memanggilnya “Kala”.             Kala adalah seorang direksi muda yang saat itu juga tengah mengikuti kegiatan Pengabdian Masyarakat bersama Arunika. Tak jelas juga apa motif seorang Kala dikirim ke pelosok Kalimantan, berbeda dengan Arunika yang memang mendaftarkan dirinya sebab Arunika memang sangat suka bermasyarakat ketimbang menjad...

Arunika : Deja Vu

            Sabtu pagi dengan semangat weekend sudah membumbung tinggi dalam hati Arunika. Tugas negara sudah selesai. Budi masih mengawang-ngawang di pikiran. Budi, ya nama yang kerap kali mengisi kisah Arunika. Seorang aktivis, yang sekarang juga menjadi jurnalis, si bijaksana dan selalu terlihat sabar. Tak lupa dengan sedikit lugu dan pesonanya sehingga bukan hanya Arunika, banyak wanita lain dari fans K-pop sampai penyuka kucing pun juga mengaguminya sejak awal berjumpa. Ah dasar, Bucin, ungkap Arunika ketika melihat beberapa wanita mendekati Budi dan mengajaknya ngopi. Padahal belum tentu wanita itu mengagumi Budi, tapi yang pasti mereka mencari kesempatan.             “Beuh, banyak bangetttt Bucin disini” ujar Arunika pada Budi. “Bucin? Mereka? Bucinnya siapa?” Budi masih tidak mengerti bahwa Arunika tengah menyikutnya. “Itu mereka, Bucin, Budi Cintaku. Hahahaha”....

Beberapa yang Tak Terucap

  Sore itu, rindu Sebaris kalimat darimu adalah udara Dengan kebenaran, ciptaanmu Aku risau, kata itu selalu melayang Sebab yang pasti adalah sore Tanpa  seluruh keindahannya Yang indah sedang tak disini Kala itu, ku suka kabar burung Katanya kau akan berlabuh disini Sebab katanya kau suka apel Lalu yang merah adalah aku Namun kau, gitar itu, bandana itu Pasir itu, ombak itu, waktu itu Aku melihat kau ingin yang hijau Lalu, sore itu, tak ada kau, mendung Yang ada aku dan dia dan dia Apa masih ingin hijau? Jika iya, Jika tidak, Ah, terserah saja Yang pasti, sore itu Mereka menelan mendung Namun tak mampu melahap rindu

Arunika : Keadilan untuk Adilla

            Sabtu malam di tempat Arunika bernaung, tak ada bedanya dengan kota mu. Tetap sesak dipenuhi manusia yang menganggap malam itu adalah malam yang penting. Arunika bukan salah satunya, dibuktikan dengan ia yang duduk dan menatap layar laptop untuk menulis sebuah cerpen yang biasanya diupload seminggu sekali di website Komunitas Penggores Pena. Pikiran Arunika tengah buntu, entah karena kejadian hari rabu yang menyebabkan Budi di boyong ke sektor kota, lalu hati Arunika patah karena Budi lebih membimbangkan orang lain ketimbang dirinya sendiri atau karena teringat tugas-tugas kuliah yang mulai tak tersentuh. Arunika tengah bimbang, tak tau arah, kelam kabut.             Dalam riuhnya bunyi knalpot motor yang sering lalu lalang, Jingga datang dengan membawa sekotak terang bulan rasa keju coklat, kesukaan Arunika. Sahabat Arunika sejak di bangku sekolah itu memang selalu paham keinginan...